Amat banyak dijumpai muslim yang makan ataupun minum menggunakan tangan kiri. Untuk membuktikan pernyataan ini, mulai saat ini coba anda amati mulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang lain yang anda jumpai saat mereka makan.
Saudaraku…
Masalah penggunaan tangan saat makan, jangan dianggap sebagai hal yang sepele. Hal ini secara tegas telah disampaikan oleh Rasul bahwa kita harus makan minum menggunakan tangan kanan.
Dari Jabir, Rasul SAW, bersabda : “Janganlah makan dengan tangan kiri, sebab hal itu perilaku (kebiasaan) syetan, ia makan dengan kiri.” (HR. Muslim)
“Jangan sekali-kali kamu makan dan minum dengan tangan kiri, sebab syetan makan dan minum menggunakan tangan kiri.” (HR.
Muslim)
Jika kita menyepelekan ini, apakah kita tidak malu mengaku sebagai umat Muhammad SAW?
Jika rumah sudah tidak layak huni, tentu harus kita renovasi bukan? Bahkan sebagian orang merenovasi rumah hanya untuk memperindah saja. Itu dilakukan dengan biaya yang tidak sedikit, dan waktu yang berhari-hari.
Mari kita melihat, apakah rumah kita saat ini perlu renovasi?
Jika suasana rumah kita seperti kuburan, bersegeralah ambil tindakan renovasi! Rumah yang seperti kuburan adalah rumah yang tidak dipakai untuk shalat sunnah, seperti sabda Rasul SAW:
“Jadikanlah rumahmu sebagai tempat shalat sunnah, dan janganlah kau jadikan rumahmu sebagai kuburan.” (HR. Bukahri- Muslim)
Dari Zaid bin Tsabit, bahwasanya Rasul SAW, bersabda:
“Kerjakanlah shalat di rumahmu hai manusia, sebab shalat yang paling utama ialah yang dilakukan di rumah, kecuali shalat Fardhu.” (HR. Bukahari-Muslim)
Dari Jabir, Rasul SAW, bersabda: “Apabila kamu sudah shalat
(fardhu) di masjid, maka shalatlah (sunnah) di rumahmu, sebab rumah yang dibuat shalat akan diberi kebaikan oleh Allah ‘Azza wa Jalla”. (HR. Muslim)
Karena itu,...
Mari jadikan rumah kita lebih indah, lebih nyaman dan lebih bernilai dengan memperbanyak shalat sunnah di dalamnya. Inilah renovasi rumah yang sebernarnya, jenis renovasi yang lebih penting (primer) dan gratis!
Mengucapkan salam dan berjabat tangan bukanlah sebuah tradisi, ataupun sekedar etika pergaulan. Lebih dari itu, karena saat seorang muslim berjumpa dengan saudara muslim lainnya, maka mengucapkan salam dan berjabat tangan adalah merupakah ibadah.
Kedua hal ini dianjurkan oleh Rasul, karena dapat mempererat persaudaraan dan dapat mendatangkan ampunan.
Mari kita simak haditsnya:
“Maukah kutunjuki hal-hal yang menumbuhkan kasih-sayang diantara kamu? Yaitu memasyarakatkan ucapan salam diantaramu” (HR. Muslim)
“Tiada dua orang Islam berjumpa dan berjabat tangan, kecuali diampuni dosa keduanya sebelum mereka berdua berpisah dari tempat tersebut” (HR. Abu Daud)
Jabat tangan yang diperbolehkan adalah antar sesama laki-laki atau antar sesama perempuan, kecuali muhrim.
Jika kita menginginkan rizki yang halal, banyak (melimpah) dan berkah, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah mengajarkan doa untuk kebutuhan tersebut:
Dari Ali, bahwasanya budak Mukatab berkata: “Sungguh berat bagiku mengangsur uang tebusan dirimu, oleh karena itu tolonglah aku”, Kata Ali : “Ketahuilah akan kuajarkan materi doa yang pernah disampaikan Rasul SAW kepadaku, sekalipun beban utangmu sebesar gunung pasti Allah akan memberi kemampuan padamu melunasi hutangmu itu, berdoalah sbb:
ALLAAHUMMAKFINII BIHALAALIKA ‘AN HARAAMIKA WA AGHNINII BIFADLIKA ‘AMMANSIWAAKA
Ya Allah, cukupilah aku dengan rizki yang halal, bersih dari yang haram dan berilah aku kekayaan yang melimpahkan dari kemurahan-Mu, bukan dari kemurkaan-Mu” (HR Turmudzi)
Dzikir berarti mengingat, maksudnya adalah mengingat Allah (dzikrullah). Dzikrullah dilakukan dengan lisan, hati dan perbuatan. Orang yang mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallah”, berarti dia telah berdzikir secara lisan. Kalau dia mengerti artinya dan diyakini sepenuhnya dalam hati, maka hatinya telah berdzikir. Kemudain jika perbuatannya sesuai dengan yang diucapkan dan diyakininya, maka dia telah sempurna dalam berdzikir. Karena itu, orang yang berdzikir adalah orang yang selalu taat dan menjauhi maksiat.
Inilah mengapa berdzikir kepada Allah adalah amalan terbaik.
Dari Abu Darda, Rasul SAW, bersabda : “Maukah kalian, kuceriterakan amalan yang terbaik di sisi Tuhanmu, dan kedudukannya sangat luhur, dan bagimu lebih utama dibandingkan dengan menginfakkan emas-perak, dan lebih unggul dibandingkan dengan jihad melawan musuh sehingga kau tewas di tengah pertempuran?” Jawab mereka : “Baik ya Rasul”, lalu beliau SAW, bersabda : “Yaitu dzikir kepada Allah.” (HR. Turmudzi)
Sebaliknya, orang yang tiada berdzikir adalah orang yang hina.
“Orang yang selalu berdzikir kepada Allah dengan yang dungu tiada mengingatNya, diumpamakan seperti manusia hidup dengan bangkai.”
(HR. Bukhari)
Orang yang berdzikir mendapatkan pertolongan dari Allah SWT:
Maka ingatlah pada-Ku (Allah), niscaya Aku pun ingat kepadamu".
(QS. Al Baqarah: 152)
Dalam dunia bisnis, faktor penting untuk melipatgandakan keuntungan adalah adanya “Faktor Kali”. Adapun faktor kali dalam bisnis akhirat, adalah dengan jalan merintis jalan kebaikan, atau menyeru kebaikan pada orang lain.
“Barangsiapa MERINTIS jalan kebaikan dalam Islam, berarti ia memperoleh pahala (sendiri) dan pahala orang-orang yang mengikuti jalan kebaikan tersebut dengan tiada mengurangi pahala mereka sedikitpun" (HR.Muslim)
“Barangsiapa MENYERU orang lain ke jalan benar (Islam), maka baginya pahala sejumlah orang yang memeluknya, dengan tiada mengurangi sedikitpun pahala mereka" (HR Muslim)
Sebagai contoh, jika kita merintis atau menyeru untuk shalat berjamaah di masjid, dan ada 1000 orang mengikuti kita, maka kita akan mendapatkan 27 derajat pahala atas yang telah kita kerjakan sendiri, ditambah (27 x 1000) derajat pahala dari orang-orang yang mengikuti kita. Sehingga totalnya menjadi 27.027 derajat.
Merintis dan menyeru kebaikan tidak harus dengan terjun langsung, melainkan sesuai kemampuan kita masing-masing.
Jika kita mau berkhutbah, berceramah atau menjadi dai tentu lebih baik. Tapi jika kita tidak memiliki kemampuan untuk itu, kita bisa menggantinya dengan cara lain seperti mengadakan pengajian atau seminar dengan memanggil ustadz.
Jika kita mau berdakwah lewat menulis buku atau artikel, tentu lebih baik. Tapi jika kita tidak memiliki kemampuan untuk itu, kita bisa menggantinya dengan cara lain seperti membeli buku dan menghadiahkan pada orang atau perpustakaan. Duduk sebagai salah satu anggota penerbitan buletin dakwah, atau bahkan sekedar turun ke jalan untuk membagi-bagi buletin.
inilah teknik-teknik yang akan melipatgandakan keuntungan kita.
Mari segera kita laksanakan untuk tabungan kita di akhirat.
Satu lagi...
Dari Zaid bin Khalid, Nabi SAW bersabda : "Barangsiapa mempersiapkan bekal perang bagi seseorang (pejuang), maka sungguh ia telah berperang. Demikian pula bagi orang yang menjaga hak milik para pejuang (yang tengah berperang), maka sungguh ia telah berperang" (HR. Bukhari-Muslim)
1.Berdoa ketika keluar rumah
“Apabila seseorang keluar dari rumahnya dan berdoa Bismillaahi tawakkaltu alallaah la haula walaa quwwata illa billaah (dengan nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya, tiada upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), niscaya akan dikatakan kepadanya, “Cukup bagimu, engkau telah diberi petunjuk dan dilindungi.” Syetanpun akan menjauh darinya” (HR Tirmidzi).
2.Berdoa ketika berkendaraan (cukup basmallah, jika belum hafal) “Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadza wa maa kunna lahu muqriniin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun” Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. (QS Az Zukhruf: 23-24)
3.Baca takbir ketika menaik, baca tasbih ketika menurun.
Dari Jabir, katanya : “Di tengah perjalanan kami bertakbir (membaca Allahu Akbar) sewaktu naik, dan bertasbih (membaca Subhanalloh) sewaktu menuruni lembah”. (HR. Bukhari)
4.Banyak berdoa, karena doanya mustajab
“Ada tiga macam doa yang terkabul, tiada keraguan baginya yaitu:
doa orang yang teraniaya, doa orang yang sedang dalam perjalanan, doa bapak-ibu kepada anaknya.” (HR. Abu Daud-Turmudzi)
5.Bila datang malam hari (menginap/tidak), baca doa ini:
Dari Khaulah binti Hakim, kudengar Rasul SAW, bersabda: “Barang siapa bermalam di suatu tempat di tengah perjalanan, lalu membaca do’a di bawah ini, pasti tidak bakal diganggu oleh siapapun (selamat) sampai pergi meninggalkan tempat tersebut.”
Inilah doanya: A’UUDZU BIKALIMATILLAHIT TAAMATI MIN SYARRI MAA KHALAQ. Artinya : “Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna daris egala kejahatan apapun yang Engkau ciptakan.” (HR. Muslim)
6.Mendahulukan masuk masjid ketika pulang ke rumah Dari Ka’ab bin Malik :”Bahwasanya Rasul SAW, sewaktu datang dari bepergian, yang pertama kali beliau masuki masjid, lalu shalat dua rakaat”. (HR. Bukhari-Muslim).
Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Allah berfirman:
“Aku senantiasa mengikuti sangkaan setiap manusia tentang Aku, Aku selalu bersamanya di mana saja mengingat-Ku, Demi Allah, sungguh Allah sangat lega menerima taubat hamba-Nya dari seseorang yang menemukan kembali barangnya yang hilang di hutan. Barang siapa mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, berarti ia lebih dekat dengan-Ku sehasta, dan barang siapa mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, berti ia lebih dekat dengan-Ku sedepa. Dan sewaktu ia menghadap-Ku dengan berjalan, maka Aku lebih cepat dari itu”.(HR.Bukhari-Muslim).
Karena itu, mari kita selalu:
1) Tetaplah berprasangka baik kepada Allah, karena Allah. senantiasa mengikuti sangkaan hamba-Nya
2) Ingatlah selalu kepada Allah, kapan saja dan dimana saja, karena Allah selalu bersama kita, jika kita ingat kepada-Nya
3) Bertaubatlah kepada Allah. Allah Maha Pengampun, dan senang. menerima taubat hamba-Nya
4) Berusahalah mendekatkan diri kepada-Nya, karena jika kita. mendekat kepada-Nya, maka Allah lebih mendekati kita.
Jiwa berdimensi malaikat? Hmm… Saudaraku,,, Jiwa seperti ini seakan tidak menetap ditanah, tapi selalu dari langit dan jiwanya seperti melayang diatas dunia. Itulah kesadaran bahwa dunia adalah cuma permainan. Tetapi kalau jiwa ini di bumi, melekat ditanah, akibatnya kesadarannya seringkali tumpul karena yang dilihat dunia adalah segalanya, yang dilihat cuma kekiri, ke kanan, kebawah jika kedapatan masalah. Masalah itu menerpa karena tidak bisa menyadari bahwa inilah dunia, yang hakekatnya tidak pernah memberi apa-apa. Hakikat terlalu berorientasi dunia, hantaman penyakit pusing, stress, dengki melabrak kehidupannya sehari-hari karena dunia yang dikejarnya, dijadikan tumpuan jawabannya, tidak pernah memberi solusi hakiki.
Jiwa langitan selalu ikhlas dan Ridho, soal ikhtiar tetap dikejar dalam semangat ibadah. Kesegaran Jiwanya dibangun dengan dasar pengenalannya terhadap Allah SWT, dengan cara mengenalinya dengan benar. Keyakinan-Nya kukuh karena minum vitamin-vitamin ilmu2 ulama, ustadz, kyai yang benar juga, bukan ulama2 bikinan barat yang kerjanya mengacau dan bikin sesat.
Kenapa ikhlas?, apa hebatnya?. bahasanya bakal kering kalau di hadapkan kepada orang2 yang kelamaan menjadikan dunia untuk format dikepalanya sama jidatnya.
Yang ini jelas hebat, karena yang dikejar cuma Allah. Allah yang Maha Hebat. Bahasa ini hebat jika sering tafakur, merenungi kebesaran-Nya, mendalami sunnah-sunnah Rasul-Nya. Hatinya juga menerima kebenaran. Kebenaran yang Haq yang tidak tumpul oleh kesombongan hati, sombong karena terlalu banyak menerima input dunia dibanding input akhirat.
Allah yang paling hebat, yang dicari cuma Allah. Apalagi yang lebih baik dari itu?. Dunia, kerjaan, orang tua, kerabat, segala makanan, kesehatan, untung dan rugi semuanya di tangan Allah. Cari yang lain walaupun dapat, apa hasilnya ?...Sirna tertelan waktu.
Orang menonton bola, begadang, apa yang didapat?. cuma sekedar seru di jadikan bahan omongan keesokan hari bersama teman-temannya. Selebihnya seiring waktu berjalan, tidak berbekas, yang ada kebanggaan semu, itulah contoh salah satu tipuan dunia dari sekian banyak tipuan-tipuan dunia lainnya.
Dunia yang menipu menggiring orang terhanyut, dan semakin lama bukan mengantarkan kepada kebahagiaan tetapi pada puncaknya malah bakal menjadikan seseorang kepada kesepian yang hebat, semumur hidupnya seakan sia-sia, yang diusahakannya selama hidup untuk memenuhi jiwanya akan segala juta rasa dunia, hilang tak berbekas, kecuali hanya kenangan, ingatan kedalam penyesalan.
Segala bentuk kebaikan, pada dasarnya akan kembali kepada kita.
Menengok orang sakit adalah sebuah kebaikan. Bagi si sakit akan mendapatkan motivasi, dan rasa senang atas kedatangan, perhatian dan doa kita. Di balik semua ini, sebenarnya bukan hanya si sakit saja yang mendapatkan “keuntungan”. Bagi kita yang menjenguk, juga akan mendapatkan balasan yang luar bisa dari Allah.
Inilah buktinya, Dari Tsauban, Nabi SAW, bersabda :
“Bahwasanya seorang muslim apabila menengok saudara/kawan sesama muslimnya, maka ia senantiasa berada dalam petamanan sorga sampai pulang. Shahabat bertanya: “Apakah yang dimaksud dengan pertamanan sorga?
Jawabnya: “ Petamanan (kebun) yang tengah berbuah” (HR. Turmudzi)
Dari Ali, kudengar Rasul SAW, bersabda : “Tiada seorang muslim menengok sesama muslimnya (yang tengah sakit) di pagi hari, kecuali para malaikat sejumlah 70.000 memohonkan kasih untuknya sampai pagi hari, dan baginya jaminan buah-buahan di sorga” (HR.Turmudzi)
Berapa kali anda dalam sehari keluar rumah? Sadarkah anda bahwa “kecelakaan dan kemaksiatan” lebih besar peluangnya terjadi di luar rumah? Mari kita lihat: orang tertabrak motor, menabrak mobil, kena copet, dimarahi atasan, marah pada orang lain, dipukul orang, selingkuh, korupsi… dll semua terjadi di luar rumah bukan?
Karena itu, agar lebih aman anda jangan keluar rumah, kecuali mengikuti anjuran Rasulullah SAW yang tertuang dalam hadits sbb:
“Apabila seseorang keluar dari rumahnya dan berdoa Bismillaahi tawakkaltu alallaah la haula walaa quwwata illa billaah (dengan nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya, tiada upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), niscaya akan dikatakan kepadanya, “Cukup bagimu, engkau telah diberi petunjuk dan dilindungi.” Syetanpun akan menjauh darinya” (HR Tirmidzi).
Dalam riwayat lain: “Maka pada saat itu dikatakan kepadanya, ”Anda telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dilindungi.” Maka akan menjauhlah syetan darinya, dan syetan yang lain akan berkata “Bagaimana engkau dapat menggelincirkan seseorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dilindungi?” (HR Nasai, Ibnu Hibban dan Abu Daud).
Mengingat hikmahnya yang luar biasa, mari biasakan selalu membaca doa tersebut setiap kali kita keluar rumah, walu hanya untuk membeli kerupuk di warung sebelah.
Jika kita berbuat A, maka hasil yang kita dapat juga A. Jangan pernah mengharap hasil B, jika yang kita usahakan tidak berbeda dari A. Jika kita menghendaki hasil yang berbeda, maka usaha yang kita lakukan juga harus berbeda.
“Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya” (AR-Ra’ad 11)
Hikmah yang perlu kita ambil adalah semangat memperbaiki usaha, baik dengan jalan menyempurnakan yang telah ada atau membuat terobosan baru. Ini semua akan merubah nasib kita.
Mencela adalah sifat yang tercela. Dalam bersantap, Rasul juga tidak pernah mencela makanan. Simak hadits berikut:
Dari Abu Hurairah : “Rasul SAW, sama sekali tidak pernah mencela makanan, kalau beliau suka disantaplah makanan itu, tetapi jika tidak, maka beliau tinggalkan” (HR. Bukhari-Muslim)
Kalau makanan saja tidak boleh dicela, tentu mencela orang (diri sendiri atau orang lain) adalah sesuatu yang lebih tercela.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki merendahkan (mencela) kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan (mencela) kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung celaan.(QS Alhujarat:11).
Jika kita sudah terbiasa melaksanakan shalat Dhuha, mari ucapkan syukur kepada Allah yang telah memberi anugerah besar ini. Semoga kita selalu dapat istiqamah dalam menjalankannya.
Jika belum terbiasa, mulai hari ini mari kita usahakan menambah satu kegiatan rutin yang sangat bermanfaat ini (shalat Dhuha).
Jika tahun kemarin belum istiqamah shalat Dhuha, tahun inilah saatnya kita memulainya. Bukankah kita ingin agar tahun ini lebih baik dari tahun kemarin?
Inilah fadilah shalat Dhuha:
Dari Abu Dzar, Nabi SAW, bersabda : “Setiap pagi hari persendian- persendian anggota badan berkewajiban sedekah, dan setiap ucapan tasbih dianggap bersedekah, dan setiap tahmid dan takbir juga dianggap sedekah, dan menyeru kepada kebaikan juga dianggap bersedekah, demikian pula melarang perbuatan munkar juga sedekah, tetapi dengan shalat Dhuha semua itu dapat dipenuhi.” (HR. Muslim)
Saudaraku… Waktu Subuh begitu amat dahsyat, sampai-sampai nilai shalat sunnahnya saja lebih baik dari dunia dan segala isinya.
“Shalat sunah 2 raka’at sebelum shubuh lebih utama dibandingkan dengan dunia seisinya” (HR. Muslim).
Kalau shalat sunnahnya saja sudah sedemikian dahsyat, lalu bagaimana dengan shalat Subuhnya? Inilah jawabannya:
“Barangsiapa shalat Isya berjamaah, seolah-olah ia menegakkan shalat separoh malam, dan barangsiapa shalat subuh berjamaah, seolah-olah ia menegakkan shalat semalam suntuk.” (HR Muslim)
Pantaslah, bagi yang tahu hal ini mereka akan berusaha keras mendatanginya (shalat Subuh berjamaah di masjid) dengan cara apapun.
“Tiada yang dirasa berat pelaksanaannya bagi orang munafik, kecuali shalat Subuh dan Isya berjamaah, padahal kalau mereka tahu pasti keagungan pahalanya, niscaya mereka bakal mengikutinya sekalipun harus berjalan merangkak-rangkak. (HR Bukhari-Muslim).
Saudaraku… semoga tulisan ini dapat memotivasi bangun pagi.